== Kisah Inspiratif ==
Alkisah, Riang Gadis Kecil temukan Batu KUSAM di pinggir jalan. Meski mungkin itu hanyalah Batu biasa, Riang memungut & menyimpannya. Bahkan tiap hari Ia gosok dg hati2. Karena trus di Gosok, Batu KUSAM itu berubah mengKILAT & bersinar.
Riangpun membawa Batu itu ke Tukang Permata tuk diolah jd Liontin. Ajaibnya, di tangan AHLINYA Batu itu berubah berkilau serupai Batu PERMATA. Semua Org takjub & mengira Batu itu adl Permata yg MAHAL.
Suatu hari, Liontin itu lepas dari ikatannya dan hilang . Hal ini buatnya SEDIH. Bahkan jadi Pemurung, tak Selera Makan & tak Ceria lagi.
Suatu hari KAKEK nya yg melihatnya termenung. Bertanyalah si Kakek ttg Kesedihannya. Riangpun ceritakan semuanya.
Setelah Riang bercerita, berkatalah si Kakek, "Cucuku, semua Hal yg telah Kmu lalui itu adalah PROSES Keberhasilanmu. Dulu Kamu temukan Batu Kusam, Kamulah yg jdkan Batu itu lebih INDAH"
"Ketahuilah, Semua itu hanya PROSES. Dulu Kamu TEKUN jalani setiap TAHAPAN dlm nebgUBAH Batu itu jd sebuah Benda yg terlihat BERHARGA"
"Batu hanyalah Batu. KEULETANMU menjaganya lah yg buatnya LEBIH Bernilai. Lalu, kenapa hrs BERSEDIH?"
"Msh banyak Batu Kusam yg dpt Kau jadikan BERKILAT. Ciptakan lebih banyak KARYA Indah & Ceriakan Harimu. Itu jauh lebih Penting daripada kamu meRATAPI batu Kusam yg kini Hilang."
Akhirnya Riang pun tersadar & kembali Ceria.
Sahabat..
KESUKSESAN Sejati itu diraih lalui PROSES Perjuangan Panjang & Berliku.
Kadang meski SUKSES sdh ada di Genggaman, Kita kadangkala kita bisa mengalami KEGAGALAN bahkan KEBANGKRUTAN.
Tak perlu Bersedih apalagi Takut sahabatku, Hidup ini PASTI Berubah.
Selama kita Masih Bersedia BERJUANG & TEKUN menjalani PROSES, maka Kesuksesan & Kebahagiaan itu PASTI kembali akan Tergenggam
So, Cepat ;ah Tersenyum, segera ambil langkah OPTIMIS tuk memulainya lagi DETIK ini.
MONEY
Friday, 20 September 2013
Tuesday, 17 September 2013
Don't Give up!!!
Yang Pei, gadis muda penyandang cacat ini telah menyentuh hati banyak
orang setelah sharing mimpi dan kisah hidupnya dalam program televisi
"China Dream Show" (CDS), bulan Mei lalu. Ia kehilangan kedua lengannya
karena tersengat listrik tegangan tinggi ketika berusia 9 tahun.
Kejadian itu membuatnya terpaksa meninggalkan sekolah dan belajar di
rumah. Selama bertahun-tahun, Yang Pei berjuang untuk hidup mandiri. Ia
melakukan berbagai hal menggunakan kakinya, termasuk mencuci pakaian,
memasak dan makan.
Saat ini, Yeng Pei berusaha mencari nafkah sendiri. Untuk itu, dia belajar menyulam di kota Guangzhou, China bagian selatan. Beberapa bulan lalu, ia mendaftar ikut audisi CDS. Ia mengatakan kepada seluruh orang yang ada di sana, serta penonton TV, bahwa mimpinya adalah membuka toko sulaman (hasil karya sendiri), suatu hari kelak.
Bagaimana tanggapan mereka? Silakan simak video di bawah ini, semoga bisa memberikan inspirasi dan suntikan semangat pada kita semua, khususnya dalam berjuang meraih mimpi. Tetap optimis! Luar biasa!
http://youtu.be/GWAh61Y7aqA
Saat ini, Yeng Pei berusaha mencari nafkah sendiri. Untuk itu, dia belajar menyulam di kota Guangzhou, China bagian selatan. Beberapa bulan lalu, ia mendaftar ikut audisi CDS. Ia mengatakan kepada seluruh orang yang ada di sana, serta penonton TV, bahwa mimpinya adalah membuka toko sulaman (hasil karya sendiri), suatu hari kelak.
Bagaimana tanggapan mereka? Silakan simak video di bawah ini, semoga bisa memberikan inspirasi dan suntikan semangat pada kita semua, khususnya dalam berjuang meraih mimpi. Tetap optimis! Luar biasa!
http://youtu.be/GWAh61Y7aqA
Kasih Ibu
Pepatah mengatakan "Kasih Ibu Sepanjang Masa"...lalu yang ini bagaimana kita memahaminya ?
Seorang Ibu dari Georgia telah memummifikasi tubuh anaknya yang sudah
mati dengan alkohol selama 18 tahun ,Supaya anaknya dapat terlihat
seperti apa adanya.
-Tsiuri Kvaratskhelia memumi Joni Bakaradze ketika ia meninggal 18 tahun yang lalu,
-Dia membungkus mayat anaknya dan dicelupkan kedalam alkohol untuk mencegah pembusukan
-Dia telah mengganti pakaiannya berulangkali setiap tahun sampai
terjadi pembusukan yang membuatnya terlalu sulit untuk melakukannya
lagi,
-Wanita ini mengatakan:”Dia menginginkan anaknya terlihat seperti itukarena dia sangat mencintainya”
Ibu Kvaratskhelia telah banyak belajar tentang trik-trik untuk menjaga anaknya agar seperti itu .
Suatu malam saya bermimpi dan ada suara yang mengatakan kepada saya
untuk mengobati Joni dengan menggosoknya dengan alkohol dan seterusnya
aku mulai menggunakan kain yang dibasahi basahi dengan alkohol untuk
memelihara tubuhnya, katanya.
“Bila tidak dibasahi dengan alkohol (vodka) kulitnya akan kembali berwarna hitam seperti arang”.
sumber: http://www.dailymail.co.uk/ home/index.html
coutesy youtube: http://www.youtube.com/ watch?v=ZYjX0jVaEpw
Monday, 16 September 2013
DOA, Bisakah terkabul
Hidup ini tidak
memuaskan. Ada saja yang kita rasa masih kurang kita miliki;
harta, rezeki, berkah, sandang-pangan, pekerjaan, kesehatan,
keamanan, keturunan, keselamatan, kebahagiaan, dll. Sesungguhnya
semua itu bisa kita dapatkan dengan melakukan suatu usaha, dengan
membuat sebabnya, karena manusia memang memiliki potensi untuk itu.
Manusia bukanlah makhluk lemah dan ringkih, sehingga untuk memenuhi
segala kebutuhannya harus mengharapkan belas kasihan makhluk
lain. Menurut agama Buddha, manusia bukanlah wayang golek, yang
segala sesuatunya diatur dan digerakkan oleh Pak
Dalang/Sutradara. Tak ada makhluk lain yang ikut mengatur
persoalan nasib seseorang. Namun karena terbelenggu oleh
ketidaktahuan, manusia tidak dapat melihat dan merealisasikan potensi
yang ada pada dirinya. Mereka lebih suka memohon dan meminta
kepada para dewa, sebagai jalan pintas untuk memenuhi segala
keinginannya, tanpa mau bersusah payah. Apalagi bila dalam memohon
itu dipersembahkan sajian yang mewah dan mahal, maka dianggap
akan lebih mempercepat terkabulnya permintaan mereka. Tindakan
memohon dan meminta kemurahari hati para Dewa atau Maha Dewa
untuk sesuatu inilah yang umum disebut Berdoa.
Umat
Buddha memuja Sang Buddha, sama sekali tidak dengan harapan untuk
memperoleh hadiah-hadiah duniawi maupun spiritual, seperti: rezeki,
harta, pekerjaan, jodoh, keturunan, keselamatan, berkah, diampuni
dosanya, sorga, atau pamrih apapun. Bukan juga karena perasaan
takut akan hukuman. Kita menghormat dan sujud kepada Sang Buddha
karena Beliaulah yang menemukan dan membabarkan Jalan Kebebasan.
Karena itu, tidaklah berkelebihan bila Puja Bakti, sembahyang,
dalam agama Buddha adalah betul- betul mumi dan tulus.
Dengan
mempersembahkan bunga dan dupa di hadapan Buddha Rupang, kita
bermaksud membuat diri kita merasa berhadapan langsung dengan Sang
Buddha. Dengan cara demikian kita memperoleh inspirasi dari sifat
pribadi Sang Buddha yang mulia, dan menghirup kasih sayang Beliau
yang tak terbatas, serta merenungi dan mencoba untuk mengikuti
contoh mulia Beliau. Pohon Bodhi juga merupakan lambang
pencapaian penerangan sempuma. Obyek-obyek penghormatan luar ini
tidak mutlak perlu, dan ini hanya berguna untuk memusatkan
pikiran seseorang kala bermeditasi.
Seseorang
yang sudah maju tidak memerlukan obyek-obyek luar tersebut
Karena dengan mudah ia dapat memusatkan perhatiannya dan menggambarkan
Sang Buddha dalam batinnya. Demi kebaikan kita sendiri dan karena
rasa terima kasih, maka kita melakukan penghormatan luar seperti
itu. Tapi yang diharapkan oleh Sang Buddha dari para pengikutnya
bukanlah penghormatan seperti itu. Sang Buddha bersabda; bahwa
cara penghormatan yang paling tepat adalah melaksanakan
ajaran-Nya dengan baik.
Dalam
agama Buddha tidak ada doa-doa permohonan, minta-minta
keselamatan, berkah, rezeki, pengampunan, dan lain-lain; baik kepada
Dewa, Brahma, Sang Buddha sendiri, ataupun Tuhan. Beliau tak
pernah manjanjikan hadiah kepada mereka yang berdoa kepada-Nya.
Sang Buddha tidak hanya menyatakan betapa sia-sianya doa-doa
permohonan, tapi juga Beliau mencela perbudakan mental seperti
itu.
Mengapa
Sang Buddha tidak mengajarkan umatnya berdoa atau memohon atau
meminta-minta kepada Tuhan, karena Tuhan -Yang Maha Esa- dalam agama
Buddha bukanlah suatu pribadi atau makhluk hidup yang menjadi
tempat menggantungkan hidup, berdoa, atau memohon. Tuhan dipandang
sebagai Tujuan Akhir bagi semua makhluk. Dengan demikian, doa
permohonan tidak tepat ditujukan kepada Tuhan dalam pengertian
agama Buddha. Sang Buddha telah berhasil menempatkan Tuhan pada
proporsi yang sebenamya, yaitu sebagai Dhamma Yang Tertinggi,
Yang Tak Bersyarat. Demikian juga halnya dengan Sang Buddha,
karena telah menyadari dan menyelami hakikat Tuhan yang
sebenamya, maka Beliau tidak seharusnya dipaksa untuk mengurusi hat-hal
duniawi. Umpamanya, dengan menjadikannya sebagai cukong yang
senang berdagang kesejahteraan atau kebahagiaan; ataupun sebagai
hakim yang dapat disuap dengan doa-doa, puji-pujian, maupun
persembahan kurban. Sebagai Guru yang menganjurkan Ehipassiko,
maka mengapa Sang Buddha tidak mengajarkan doa
permohonan/minta-minta, dapat dikaji dari manfaat atau kegunaan
doa yang demikian itu. Untuk mengkaji manfaatnya, kita dapat
membuat suatu analogi yang sederhana.
Ada tiga orang petani, menanam jagung dengan faktor-faktor penunjang tanah, air, cuaca, perawatan, dl1- yang sama. Tapi:
- Si A, berdoa siang malam, agar biji jagung yang ditanam tumbuh menjadi pohon mangga.
- Si B, berdoa agar biji jagung itu tumbuh menjadi pohon jagung.
- Si C, tidak berdoa, karena yakin "segala sesuatu itu akan tumbuh dan berbuah sesuai dengan benih yang ditanam".
- Si A, berdoa siang malam, agar biji jagung yang ditanam tumbuh menjadi pohon mangga.
- Si B, berdoa agar biji jagung itu tumbuh menjadi pohon jagung.
- Si C, tidak berdoa, karena yakin "segala sesuatu itu akan tumbuh dan berbuah sesuai dengan benih yang ditanam".
Adakah
yang mampu mengabulkan doa/permohonan si A? Rasanya penjelasan
lewat analogi tersebut sudah sangat gamblang. Doa hanya terkabul bila
pas dan sesuai dengan benih / karma / perbuatan kita; yang
sebetulnya tanpa didoakan/dimohonkan/diminta juga pasti akan
terkabul. Untuk membuat keinginan kita terkabul, sebab yang tepat
mesti kita miliki atau ciptakan. Berdoa, itu boleh dan bisa
saja, seperti kita boleh/bisa menebar pupuk, menyiram dengan air,
tapi jika tidak menebar benih, maka tak ada yang tumbuh. Doa
permohonan menjadi sia-sia bila kita tidak memiliki simpanan
karma balk, tidak memiliki penyebab terkabulnya doa permohonan kita.
Sang
Buddha saat menjelaskan bagaimana hukum sebab-akibat bekerja dalam
pikiran kita, menyatakan bahwa membunuh akan menyebabkan antara
lain, berusia pendek. Menghindari pembunuhan, akan menyebabkan
usia panjang dan bebas dari penyakit Bila kita gagal mengikuti
nasihat yang paling mendasar ini, tetapi tetap berdoa agar
berumur panjang dan memiliki kesehatan yang balk, kita telah
salah tafsir. Sebaliknya bila di masa lalu seseorang telah
menghindari pembunuhan, menyelamatkan nyawa seseorang atau makhluk
lain, maka harapannya mungkin bisa terpenuhi. Dengan cara yang sama,
Sang Buddha mengatakan bahwa kemurahan hati merupakan awal dari
kekayaan. Jika kita murah hati pada kehidupan yang lalu, dan
sekarang berharap agar kekayaan kita bertambah, maka keuangan
kita bisa berkembang. Sebaliknya bila kita kikir saat ini, kita
sedang menciptakan sebab dari kemiskinan kita di masa mendatang!
Bila
ada yang merasa doanya terkabul, maka terkabulnya doa itu
sesungguhnya karena ia memiliki sebabnya. Ia mempunyai tabungan karma
baik di kehidupannya yang dulu, atau karena usahanya pada
kehidupannya sekarang ini. Untuk itu beberapa agama cenderung
merangkaikan kata doa menjadi "Berdoa dan bekerja". Kita tentu
menyetujui bahwa yang menjadi penentu terpenuhinya keinginan kita
adalah kata "bekerja". Sebab, bekerja tanpa berdoa, keinginan kita
masih bisa tercapai. Tapi kalau berdoa saja tanpa bekerja,
hasilnya tidak pasti. Apakah semua ini berarti bahwa doa
permohonan adalah satu hal yang sama sekali tidak berguna?
Walaupun jelas doa itu sendiri tak bisa mengabulkan keinginan
kita, tentu tak bisa dikatakan 'mutlak sia-sia'. Karena bagaimanapun
juga, berdoa jauh lebih baik daripada melamun dengan pikiran
kosong, apalagi berbohong, mencuri, mabuk-mabukan, atau perbuatan
buruk lainnya. Alih-alih mengajarkan doa-doa permohonan yang
sia-sia, Sang Buddha mengajarkan Meditasi. Meditasi bukanlah
berdiam diri melamun atau mengosongkan pikiran. Meditasi adalah
perjuangan pikiran, latihan pengendalian pikiran; mengesampingkan
segala pikiran dan nafsu keinginan yang rendah dan egois,
mengendapkan kekotoran batin sehingga pikiran menjadi tenang. Makin
maju tingkat meditasi kita, makin tenang, jemih, dan terang
pikiran kita. Dengan pikiran yang jernih, tentu kita menjadi
lebih waspada, bijaksana, dan lebih bisa membedakan antara yang
semu dengan yang sejati. Pada tahap lebih lanjut, ini akan
mengubah cara berpikir kita, mengubah pandangan dan tabiat kita
menjadi lebih baik. Cara berpikir dan tabiat yang baik tentu
membuat tindakan kita pun menjadi baik. Otomatis kelak kita akan
memetik kebahagiaan, walaupun kita tidak berdoa, memohon, atau
meminta. Meditasi merupakan cara sembahyang yang paling mudah dan
bersih, karena tidak mewajibkan seseorang untuk mengucapkan
apa-apa yang tidak ia mengerti. Tidak memperbesar keinginan atau
keegoisan dengan permohonan atau permintaan untuk
kepentingan/keuntungan diri sendiri.
Apakah berarti Dewa tidak bisa menolong manusia?
Jangankan
Dewa, manusia pun bisa menolong, tetapi bantuan atau pertolongan
itu tidak terlepas dari karma kita sendiri, baik pada kehidupan
yang lampau maupun yang sekarang. Dewa yang kita mohoni, hanya
mampu menyediakan situasi agar karma baik kita bisa tumbuh dan masak.
Bagaimana
Dewa bisa menolong? Apabila moral dan batin kita bersih,
otomatis para Dewa suka berada di dekat kita. Tanpa diminta pun, mereka
akan berusaha membantu kita. Memberi firasat, menghalangi makhluk
jahat atau 'black-magic' yang ingin mengganggu. Tapi kalau
memang karma buruk kita yang lampau telah masak dan situasi serta
kondisinya mendukung, maka siapa pun tak sanggup menolong lagi.
Dalam arti sejati:
"Diri
sendiri sesungguhnya pelindung bagi diri sendiri. Karena siapa
pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah seseorang
dapat melatih dirinya dengan baik, maka ia akan memperoleh suatu
perlindungan yang sukar diperoleh". Walau tak ada larangan untuk
meminta pertolongan kepada para Dewa, umat Buddha tidak seharusnya
menggantungkan hidupnya kepada para Dewa. Kemandirian seharusnya
menjadi sikap yang utama. Sebab manusia mempunyai potensi tinggi
untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya karena ketidaktahuannya atau
kebodohannya yang sangat dalam itulah, maka manusia gagal untuk
menyadari kemampuan tersebut.
Perlu
diketahui bahwa pertolongan yang dapat diberikan oleh para Dewa
maupun makhluk lain hanyalah terbatas pada pertolongan yang bersifat
duniawi, tidak kekal, bisa musnah, bisa hilang; sehingga akhimya
bisa menimbulkan penyesalan dan kedukaan. Sedangkan kesucian,
kebahagiaan sejati, dan kesempurnaan, hanya dapat dicapai melalui
usaha dan perjuangan sendiri. Sekarang mungkin timbul pertanyaan,
"Kalau memang agama Buddha tidak mengenal ajaran tentang doa,
permohonan, atau minta-minta, lalu apa yang dilakukan atau
diucapkan oleh umat Buddha saat sembahyang?"
Sang
Buddha mengajarkan agar kita memperbaiki yang ada di dalam diri
kita sendiri, mengikis Lobha, Dosa, dan Moha. Makin bersih batin kita,
makin mampu kita menahan diri dari perbuatan salah; yang berarti
makin sedikit buah-buah pahit yang bakal kita terima. Yang
diucapkan waktu sembahyang adalah PARITTA atau SUTTA. Dengan
mengucapkan paritta atau sutta, pikiran dan ucapan diarahkan
untuk berpikir dan berucap yang balk. Itu berarti membuat karma
baik lewat pikiran dan ucapan. Makna atau tujuan kita mengucapkan
paritta adalah sebagai pengulangan terhadap Ajaran Sang Buddha,
agar kita selalu ingat terhadap Dhamma Sang Buddha, selalu ingat
kepada sila (kemoralan), kepada sifat-sifat luhur Buddha, Dhamma, dan
Sangha. Dan pada akhimya ini memberi kita semangat, penguat tekad,
pembangkit usaha untuk melaksanakan Dhamma, serta sebagai
pengantar yang menenangkan untuk memulai meditasi.
Umat
Buddha menyatakan berlindung kepada Tiratana – Buddha, Dhamma,
dan Sangha. Hal ini jangan diartikan sebagai perlindungan yang pasif,
karena "berlindung" di sini merupakan pernyataan tekad, janji
kepada diri sendiri untuk mempelajari, mempraktikkan Buddha Dhamma
sampai akhimya mencapai Tujuan. Jadi terlindung tidaknya,
tergantung dari praktik Dhamma kita sendiri; sama sekali tidak
terkandung pengertian agar Tiratana menyelamatkan kita, tanpa
kita perlu mempraktikkan Dhamma itu sendiri.
Ada
juga Paritta yang mirip doa, berisi harapan, memang. Tetapi jelas
itu tidak bisa disebut doa, memohon, atau meminta, karena sebetulnya
itu adalah PATTIDANA atau Pelimpahan Jasa. Terkabul atau tidaknya
harapan itu tergantung pada karma masing-masing. Bukan tergantung
pada belas kasihan suatu makhluk. Ada juga yang bermakna
ADITTHANA, tekad, untuk mewujudkan harapan itu dengan jalan
melaksanakan Dhamma.
Bila
kita tak bisa membaca paritta, karena sebagai pemula, maka kita
bisa mengucapkan: "Semoga semua makhluk berbahagia". Kalimat itu
diulang-ulang terus. Bila hal itu sering kita lakukan dan hayati, maka
batin kita akan diliputi oleh rasa cinta kasih (metta). Bila kita
hendak melakukan perbuatan/karma buruk yang merugikan makhluk
lain, kita cepat menyadari. "Baru saja saya mendoakan agar semua
makhluk berbahagia, mengapa sekarang saya ingin menyakiti
orang/makhluk lain?" Karma buruk batal kita laksanakan, buah buruk
pun tak bakal kita rasakan. "Sembahyang, Puja Bakti, dalam agama
Buddha bukan untuk memaksakan keinginan kita, atau mengubah apa
yang ada di luar diri kita, tapi untuk mengubah apa yang ada di
dalam diri kita, mengikis kekotoran batin; Lobha, Dosa, dan
Moha".
Persembahan, boleh atau dilarang?
Masalahnya
bukan boleh atau dilarang, tetapi bermanfaat tidaknya tindakan
itu. Sang Buddha tidak pemah melarang umat awam; Sang Buddha
hanya memberitahukan akibat, pahala, dan konsekuensi dari suatu
tindakan. Kita sujud dan melakukan persembahan, bukanlah karena
Sang Buddha memerlukan, meminta, merasa berhak, apalagi
mengharuskan. Seseorang yang telah menyucikan pikirannya dan
menikmati kebahagiaan yang datang dari kebijaksanaan dan
Kebahagiaan Sejati, sama sekali tidak memerlukan apa-apa dari
luar dirinya untuk dapat menjadi bahagia. Dan... Sang Buddha
sebetulnya tidak memerlukan atau pun memperoleh apa-apa dari
persembahan kita!
Apakah ini berarti persembahan kita sia-sia?
Yang
mendapatkan manfaat dari persembahan kita sesungguhnya adalah diri
kita sendiri. Kita yang belum meraih kesucian, tentu memiliki
kemelekatan dan kekikiran. Selalu merasa kurang dan haus. Ini
membuat pikiran. kita tidak tenang, mendorong kita untuk
menghalalkan segala cara untuk mernperoleh yang kita inginkan.
Untuk mengikis kemelekatan dan kekikiran itu, salah satu caranya
adalah melaksanakan persembahan atau berdana. Memberi tanpa
merasa kehilangan. Hal ini memberikan potensi positif dan
mengembangkan pikiran kita, yang selanjutnya memperbaiki tindakan kita.
Bagaimana dengan persembahan hewan kurban?
Mempersembahkan
hewan kurban juga baik dan bermanfaat. Tapi, disamping
kebaikannya itu, karena ia juga telah sengaja menimbulkan suatu
pembunuhan -- yang termasuk karma buruk--, berarti persembahan
hewan kurban manfaatnya menjadi berkurang, susut Apalagi bila
setelah sembahyang, hewan kurban itu dimakan sendiri --tidak
didanakan kepada orang lain--, maka manfaatnya menjadi semakin
kecil.
Sang
Buddha sebagai Guru para Dewa dan manusia, tidak terlalu
mengagung-agungkan kehidupan para Dewa, tapi juga tidak terlalu
merendahkan kehidupan binatang. Sang Buddha hanya menempatkan pada
proporsi yang sebenarnya saja. Memberikan komentar tentang persembahan
kurban, Sang Buddha menyatakan: "Barang siapa mencari kebahagiaan
bagi dirinya sendiri dengan menganiaya makhluk lain yang juga
mendambakan kebahagiaan, tidak akan memperoleh kebahagiaan setelah
kematian ".
Bagaimana dengan "doa kaul"?
"Tuhan/Dewa,
berilah kami rezeki/makanan/anak. Kalau doa kami dikabulkan,
kami akan mempersembahkan ayam panggang 10 ekor". Secara sadar
atau tidak, doa itu bermakna; "Tuhan/Dewa, berilah kami
rezeki/makanan/anak, kalau Tuhan/Dewa berikan, nanti saya beri ayam
panggang. Tapi kalau Tuhan/Dewa tidak beri, saya juga tidak jadi
memberi ayam panggang". Bila Tuhan/Dewa yang kita sembah mampu
memberi kita apapun yang kita minta, apakah kita tidak salah
kaprah dengan menjanjikan sesuatu kepadanya? Ibarat kita
menjanjikan uang sepuluh ribu rupiah kepada Om Liem, bila Om Liem
mau mengabulkan permintaan kita...
Bagaimana "kaul" secara Buddhis?Berdana, berbuat baik dulu, baru lalu mengharap, "Semoga dengan kebaikan yang saya lakukan ini, saya bisa mendapatkan kebahagiaan/rezeki/makanan/anak". Jadi, tanam dulu benih jagung kita, baru kita bisa berharap memanen jagung. Kalau kita menanam -mendanakan- sebutir jagung, kelak kita akan mendapatkan hasil, pahalanya berbutir-butir. Kalau kita berharap panen dulu baru kelak menanam, berarti kita perlu banyak belajar dari pak tani.
Semoga tulisan ini bisa memperbaiki cara kita bersembahyang. Semoga semua makhluk berbahagia.
[Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XIV ]
Saturday, 14 September 2013
HISTORY OF MONEY
MONEY
we know it today has undergone a long process of development. At first, the community had yet to change because everyone is trying to meet thee needed with their own efforts. Human hunting if it is hungry, make their own clothes from simple materials, finding fruit for personal consumption; short, what's the benefit obtained to meet their needs. Further developments on the fact that human will be face brewed what turned out to be enough for the whole they needs. To obtain goods not produced themselves, they look for people who want to exchange goods owned by other goods needed by him. As a result emerges barter means goods exchanged goods. But in the end, many of the perceived difficulties with this system. Among them is the difficulty to find people who have the desired item and want to exchange goods possessed and difficulties to obtain goods that can be interchanged with each other to exchange value with a balanced or nearly equal value. To overcome this, the thoughts began to arise to use certain objects to be used as a medium of exchange. Fixed objects as medium of exchange is the things received by the public (Generally accepted) selected objects of high value (difficult to obtain or possess the magical and mystical), or things that are primary needs of day-to-day eg salt used by the Romans as a medium of exchange as well as a payment of wages. Roman influence is still seen until now: the British mention Salary wages as derived from the Latin meaning salarium salt.
Subscribe to:
Posts (Atom)



